KONTAK KAMI | SITE MAPS

BPSPL PADANG DAN TIM MELAKSANAKAN SURVEY PENCADANGAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DI RUPAT UTARA

Berita - 19 July 2018 10:39 AM Telah Dibaca 178 kali

0 0 0 13
Loading...

BPSPL Padang (19/7/2018) Tim BPSPL Padang mengadakan kegiatan Survei Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) di Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, yang dilaksanakan selama tiga hari terhitung dari tanggal 14 s.d 16 Juli 2018.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan potensi dalam rangka pencadangan KKPD serta mengetahui potensi keberadaan mamalia laut di Rupat Utara ini, dilatarbelakangi oleh terbitnya Keputusan Presiden nomor 6 tahun 2017 Tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar, dimana Provinsi Riau memiliki 4 (empat) buah pulau yang termasuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional (KSNT), yakni Pulau Batumandi, Rupat, Bengkalis dan Rangsang.

Untuk mendapatkan data yang menunjang, tim BPSPL Padang dibantu oleh tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain, Juraij selaku tenaga ahli dugong dan lamun dari Yayasan Lamun Indonesia dan Dugong Seagrass Conservation Project (DSCP), Syahrial dari Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli sebagai tenaga ahli ekosistem mangrove dan pesisir, serta Trisla Warningsih dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau yang merangkap sebagai tenaga ahli sosial ekonomi dan budaya. Selain itu, turut juga berpartisipasi tim surveyor dari Belukap mangrove Club (BMC) Universitas Riau, Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Riau, WWF Indonesia serta UPT PPI Pulau Rupat.     

KSNT diperuntukkan sebagai kawasan yang memiliki fungsi Pertahanan dan Keamanan (Hankam), kesejahteraan serta lingkungan (konservasi).

Didalam penetapannya, kawasan konservasi di perairan lahir dari 2 nomenklatur yaitu UU 45/2009 jo UU 31/2004 dan PP 602007 dengan nama Kawasan Konservasi Perairan (KKP), dan nomenklatur UU 1/2014 jo UU 27/2007 dengan mahzab Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KKP3K) yang masing-masing kategori dijelaskan dalam Permen KP 23/2016 dan Permen KP 17/2008, dan Permen KP30/2010 tergantung peruntukan dan wilayahnya.

 

Baca : Konservasi Kawasan

 

Berdasarkan Permenkp nomor 2/2009 tentang tatacara penetapan kawasan konservasi perairan, status kawasan konservasi ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, sedangkan kawasan konservasi yang ditetapkan oleh gubernur masih berstatus pencadangan.

Provinsi Riau sendiri hingga saat ini telah terdapat tercadangkan 3 kawasan konservasi, yakni, oleh Suaka Perikanan Terubuk (Tenualosa macrura) mencakup kawasan Selat Bengkalis-Siak-Meranti berdasarkan Pergubri no. 78 tahun 2012, serta 2 Pencadangan Kawasan konservasi Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil di Kabupaten Indragiri Hilir Dan Kabupaten Rokan Hilir berdasarkan Keputusan Gubri No. Kpts.863/XI/2017.

Koordinasi dengan BIG

 

Baca juga : Kawasan Konservasi Perairan Riau

 

Juraij, tenaga ahli dugong dan lamun menjelaskan, "selama pengamatan 3 hari di lokasi rencana pencadangan kawasan konservasi perairan daerah wilayah Rupat Utara, padang lamun hanya ditemukan di muara tanjung medang dan di depan Pulau Beruk dengan jenis lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Kondisi lamun yang ditemukan banyak yang mati dan akar-akarnya telah ditumbuhi oleh alga dan dominan sedimennya lumpur berpasir. Dugong dugon tidak ditemukan sama sekali pada 3 hari pengamatan, hal ini dicurigai karena dugong tidak banyak beraktivitas di kawasan tersebut. Karena lamun-lamun yang menjadi makanan favoritnya tidak ada dan lamun-lamun yang tersedia banyak yang mati. Adapun kemunculan dugong yang ditemukan terdampar pada tahun 2015 dan dipotong-potong pada tahun 2017, bukan merupakan dugong yang intens beraktivitas di kawasan Rupat Utara, melainkan dugong yang beraktivitas di kawasan lain. Hal ini dikuatkan dari informasi nelayan, bahwasanya mereka sangat jarang melihat dugong beraktivitas di wilayah Rupat Utara. Hanya ada satu nelayan yang  pernah melihat dugong beraktivitas disekitar Pulau babi dan terkena jerat jaring pada tahun 2000."

Survey aerial

Identfikasi lamun

Pengamatan cetacean

"Saat pengamatan mamalia laut hanya ditemukan pesut yang banyak ditemukan terlihat di Utara Tanjung Medang, depan Kuala Simpur dan Kuala Titi Akar. Kemunculan pesut ini ditemukan pada kondisi perairan sedang pasang pada pagi dan sore hari. Selain pesut pada pengamatan ini ditemukan 1 ekor penyu," tambahnya lagi.

Selanjutnya Syahrial, tenaga ahli mangrove dan ekosistem pesisir memaparkan hasil identifikasi di lapangan memperlihatkan keanekaragaman spesies mangrove sejati di Rupat Utara sebanyak 12 spesies yang terdiri dari 6 famili, dimana untuk Desa Titi Akar ditemukan spesies Xylocarpus granatum, Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Scyphiphora hydrophyllaceae, Sonneratia caseolaris, S. alba dan Avicennia alba, sedangkan di Desa Sukadamai ditemukan spesies S. caseolaris, S. alba dan A. alba. Kemudian di Desa Tanjung Medang ditemukan S. hydrophyllaceae, R. apiculata, X. granatum, C. tagal, Lumnitzera racemosa, S. caseolaris, S. alba, A. alba dan A. marina, sedangkan di Pulau Babi ditemukan B. sexangula, X. granatum, R. mucronata, R. apiculata dan A. marina."

survey mangrove

"Hasil pengamatan di lapangan juga memperlihatkan bahwa hutan mangrove Rupat Utara dominannya hidup pada substrat berlumpur. Hal ini dikarenakan di Rupat Utara banyak ditemukan sungai-sungai yang bermuara ke laut seperti Sungai Titi Akar, Sungai Tanjung Medang maupun Sungai Simpur. Selain itu, masyarakat Rupat Utara memanfaatkan ekosistem mangrove untuk mencari lokan, siput gonggong, memancing ikan dan udang. Kemudian, untuk kayu mangrovenya dimanfaatkan untuk keperluan carocok bangunan (dari spesies R. apiculata), pancang kapal dan jembatan/titi. Aktivitas-aktivitas manusia (antropogenik) yang ada disekitar ekosistem mangrove Rupat Utara adalah pelabuhan, perkebunan karet dan kelapa sawit, permukiman penduduk serta pembuatan batu bata tanah liat. Sementara biota asosiasi yang ditemukan di hutan mangrove Rupat Utara adalah gastropoda, bivalva, kepiting Uca sp., Kepiting Umang-Umang dan Ikan Tembakul (Periophthalmus sp)," terang Syahrial.

Selain pendataan ekosistem pesisir, juga dilakukan penggalian informasi kepada responden yang didominasi oleh nelayan.

           

pengambilan sedimen

wawancara dengan nelayan

Masyarakat Rupat Utara di lokasi survey terdiri dari berbagai macam etnis yang didominasi oleh penduduk asli (suku akit), Jawa dan Melayu. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa masyarakat tidak tahu istilah konservasi secara tekstual, namun mengerti konsep konservasi (dengan penjelasan sederhana dari pewawancara), namun, sebagian besar nelayan sudah paham akan manfaat konservasi perairan. Namun dalam kesehariannya, sebagian nelayan masih menggunaan jaring batu yang merusak ekosistem perairan serta masih melakukan pengambilan pasir laut untuk membangun rumah di sekitar perariran Beting Aceh. Namun demikian, sebagian besar masyarakat sudah mengetahui beberapa jenis satwa yang dilindungi (penyu, dugong, lumba- lumba) dan faham bahwa hewan – hewan tersebut tidak boleh ditangkap.

Ketika tim menjelaskan mengenai inisiasi pencadangan Calon Kawasan Konservasi Perairan Daerah (CKKPD), Nelayan yang memiliki area tangkap diluar kawasan calon KKPD setuju dengan rencana pencadangan CKKPD, namun sebagian nelayan kecil yang beririsan daerah tangkapannya dengan CKKPD menyatakan keberatan dengan rencana tersebut, tetapi akan mendukung apabila terdapat aktivitas eco-wisata di Rupat Utara (WS).     

 

TERKAIT
POPULER
Top