KONTAK KAMI | SITE MAPS
Kuda Laut
0 0 0 13
Loading...
A.  DESKRIPSI

 

Kuda laut merupakan salah satu hewan yang termasuk kedalam genus Hippocampus yang berasal dari kata Yunani yaitu berbentuk kepala kuda, dengan istila lain Hippos ; kepala kuda, campus = bintang laut. Kuda laut ini mempunyai sirip punggung yang lebih besar, sirip dada yang pendek dan lebar, sedangkan sirip anak kecil dan tidak memiliki  sirip ekor. ( Nontji 1993, Hansen and cummins, 2002 ).

Sedangkan menurut Nova, 1997 menyatakan bahwa kuda laut memiliki kepal seperti seekor kuda, tegak lurus dengan badannya atas, terdapat mahkota disebut coronet. Selain itu, juga kuda laut memiliki mata yang dapat bergerak dengan bebas, sehingga membantu survival dan juga pemangsaan hewan lainya. Secara sistematisnya kuda laut ini dapat diklasifikasi sebagai berikut:

  • Kindom : Chordata
  • Filum : Chordata
  • Sub filum : Vertebrata
  • Kelas : Pisces
  • Sub kelas : Teleostomi
  • Ordo : Gasterosteiformes
  • Famili : Syngnathidae
  • Genus : Hippocampus
  • Species : Hippocampus spp
B. Morfologi

 

Kuda laut ini memiliki bentuk yang sangat unik bahkan juga sangat menyimpang dari bentuk ikan lainnya, namun menurut dari Thayip, 1997 mengatakan bahwa kuda laut ini memang menyimpang namun memiliki organ – organ dalam yang sama dengan organ ikan.

Bagian tubuh dari kuda laut ini memiliki segmen dan juga mempunyai satu sirip punggung, insang yang terbuka berbentuk relatif kecil. Selain itu, dilengkapi dengan sepasang sirip dada, satu sirip dubur, dan juga tidak memiliki sirip ekor ( Nelson, 1976 ).

Kuda ini juga termasuk kedalam jenis ikan yang memiliki penampilan unik dan juga berbeda dengan yang lainnya, kelapa kuda laut berbentuk segitiga yang hampir menyerupai kuda, mulut memanjang dan juga runcing membentuk sebuah sudut 90 derajat, ekor panjang meruncing di bagian ujung. Bagian ekor ini berguna untuk mempercepat berenag kuda laut dan juga mengaitkan beberapa subrat dari lapisan satu kelapisan lainnya.

Berdasarkan dari sebuah penelitian dari Lourie et, al. 2001. Ada sembilan jenis kuda laut yang ditemukan secara luas di berbagai wilaya terutamanya di Indonesia. Klik disini untuk Panduan Indentifikasi Jenis Kuda Laut.

C.  Regulasi

 

1. Nasional

Kuda laut sebagai salah satu jenis 'ikan' pengelolaannya secara umum dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, namun kuda laut juga sebagai satwa/ikan yang termasuk dalam daftar apendiks CITES, maka selama ini pengelolaannya terutama dalam aspek pemanfaatannya, dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, yang terbatas pada pelayanan perizinan perdagangan internasionalnya. Ditjen PHKA setiap tahunnya mengeluarkan kuota penangkapan dan kuota ekspornya.

Ketentuan ekspor kuda laut juga diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.50/M-DAG/PER/9/2013 tentang Ketentuan Ekspor Tumbuhan Alam dan Satwa Liar yang Tidak Dilindungi oleh Undang-Undang dan Termasuk dalam Daftar CITES. Terdapat lima jenis kuda laut yang masuk dalam daftar ekspor tersebut yaitu Hippocampus barbouri, H. comes, H.  histrix, H. kelloggi, H. kuda, dan H.  spinosissimus.
 
Selain pengaturan tentang kuota, LIPI selaku Scientific Authority sudah tidak mengeluarkan rekomendasi penangkapan kuda laut dari habitat alam untuk tujuan perdagangan.  Ekspor kuda laut hanya diperbolehkan dari hasil pengembangbiakan untuk 2 (dua) spesies yaitu H. kuda dan H. comes, dan hanya diperbolehkan dalam kondisi hidup untuk tujuan ornamentalakuarium.           
 
2. CITES
 
Konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar telah memasukkan semua spesies kuda laut (33 spesies) ke dalam daftar Appendiks II CITES pada Conference of Party(COP) ke-12 pada tahun 2002, ini berarti bahwa perdagangan internasional kuda laut harus mengikuti ketentuan perdaganganAppendik II CITES. Sebagai implementasi dari masuknya kuda laut dalam daftar Appendik II CITES tersebut, izin ekspor kuda laut dari Indonesia dikeluarkan oleh Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan selaku Management Authority CITES.
 
CITES merekomendasikan batas ukuran minimal 10 cm untuk semua spesimen kuda laut dalam perdagangannya.  
 
 
Sebagian besar spesies Kuda Laut tercantum sebagai hewan"Vulnerable" pada IUCN Red List of Threatened Animals tahun 1996, tetapi tidak mempunyai implikasi hukum terhadap pengaturan perdagangannya. Lembaga konservasi dunia telah memberikan peringatan bagi negara-negara yang mempunyai sumber daya kuda laut bahwa secara global populasi kuda laut mengalami ancaman yang cukup serius. 
 
Menurut IUCN dari 9 spesies kuda laut yang terdapat di Indonesia, 5 di antaranya masuk dalam kategori vulnerable (VA) atau rentan, yaitu : Kuda laut zebra (H.  barbouri),  kuda laut ekor macan (H. comes),  kuda laut kuda (H.  kuda), kuda laut trimaculatus (H.  trimaculatus);   dan 4 spesies masuk dalam kategori data deficient (DD) atau tidak tersedia data yang cukup, yaitu : kuda laut spinosissimus (Hippocampus spinosissimus),kuda laut ekor duri (H.  histrix), kuda laut kellogi (H.  kelloggi),kuda laut bargibanti (H.  bargibanti), dan kuda laut denisy (H. denise).
 
D.  Sebaran dan Populasi

Berdasarkan hasil survey kegiatan BPSPL Padang selama ini, terdapat potensi sebaran kuda laut di beberapa wilayah kerja BPSPL Padang, antara lain: Propinsi Kepulauan Riau, Propinsi Sumatera Utara, Propinsi Aceh (progress updating). Potensi terbesar berada di Propinsi Kepualau Riau yang tersebar di Kab. Lingga, Kab. Bintan, Kab. Karimun, dan Kota Tanjungpinang. Sedangkan di Propinsi Sumatera Utara, potensi kuda laut tercatat berada di Kepulauan Nias.

1. Bintan (Pendataan 2015)

BPSPL Padang pada tahun 2015 melakukan pendataan pemanfaatan kuda laut bertujuan untuk menyusun langkah kebiakan perin dungan dan pelestarian populasi dan habitat kuda laut di alam khususnya di Kab. Bintan.

Hasil pendataan tahun 2015 pada 5 lokasi survei sebagai basis nelayan/pengumpul kuda laut di Bintan dan Tanjungpinang. Metode FGD dengan mengumpulakan para nelayan dan/atau pengumpul kuda laut dan pengisian kuesioner, diperoleh hasil bahwa musim puncak kuda laut terjadi pada bulan April - Oktober.

Jenis kuda laut yang ditemukan adalah Hippocampus barbouri, H. comes, H.  histrix, H. kelloggi, H. kuda, H. reidi dan H.  spinosissimus.

Informasi lebih lanjut

Newsletter

 

2. Kabupaten Lingga (Tahun  2016)

 
Pendataan dan Pemanfaatan Kuda Laut di Kabupaten Lingga dilaksanakan dengan dua tahap, pertama di tanggal 6-12 Agustus 2016 dan kedua di tanggal 23-30 Agustus 2016. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai sebaran, jenis spesies, tingkat pemanfaatan kuda laut, hingga perkiraan jumlah populasi kuda laut di Kabupaten Lingga. Pendekatan pendataan berupa survey sosial ekonomi dan survey populasi kuda laut di habitatnya. Hasil survey menunjukkan musim penangkapan kuda laut antara Bulan Maret hingga Juli. Dalam kurun waktu ini, Pulau Duyung merupakan daerah dengan pemanfaatan tertinggi dengan kisaran tangkapan 3.175 ekor/hari. 
 
Baca lebih lengkap disini

 

E.  Aktivitas Konservasi

POKMASWAS SEBONGPEREH, BINTAN

Untuk profil Pokmaswas klik info lanjut

1. Tahun 2016
Pokmaswas Sebungpereh dengan disupport BPSPL Padang bersama masyarakat 3 desa di wilayah Bintan Utara telah berhasil menginisiasi kawasan yang akan dijadikan Daerah Perlindungan Kuda Laut (DPL) di Desa Sebong Pereh, yang pada awalnya atas permintaan/inisiatif dari Pokmaswas Sebongpereh. Pertemuan pembahasan kesepatan DPL Kuda Laut ini tidak mudah diperlukan beberapa kali pertemuan bersama yang melibatkan nelayan 3 desa dan pemerintah desa setempat serta PSDKP, dan DKP Bintan, dan DKP Kepri.  Hasil kesepakatan Lokasi DPL Kuda Laut di kawasan perairan Temenjung-Sebong Pereh seluas 16,49 Hektar. Jika ada yang mengambil kuda laut  di lokasi DPL dikenakan sanksi mengembalikan 3 x lipat dari hasil tangkapan kuda laut, dalam keadaan hidup ke dalam lokasi DPL. Klik disini untuk detail hasil kegiatan.
Klik disini untuk melihat DPL di Google Maps
 
Gambar. Peta Daerah Perlindungan Laut (DPL) Kuda Laut di Kab. Bintan

 

2. Tahun 2017

Pokmaswas Sebungpereh dengan disupport BPSPL Padang melakukan inisiasi penyusunan Perdes DPL Kuda Laut yang telah disepakati bersama pada tahun 2016. Selain itu juga melakukan upaya registrasi nelayan penangkap kudalaut, pendataan hasil tangkapan nelayan, dan monitoring populasi kudalaut baik di dalam DPL maupun diluar DPL untuk melihat dampak dari ditetapkannya DPL tersebut.

 
F. Referensi
POPULER
Top